gambarku

gambarku
org yg x dikenali

Monday, October 17, 2011

ALLAH ...SEGALA2NYA

Kemunduran berfikir yang melanda umat Islam telah menyebabkan mereka berfikir menurut hawa nafsu dan emosi semata. Maka apa yang mereka rasakan baik, maka baiklah perkara itu, dan sekiranya selera nafsu mereka mengatakan bahawa hal itu buruk, maka mereka akan memutuskan bahawa hal itu buruk. Akhirnya aqal yang dikurniakan oleh Allah digunakan hanya semata-mata untuk memuaskan hawa nafsu mereka. Inilah yang menyebabkan ramai diantara umat Islam yang melakukan kema’siatan tetapi mereka tidak merasa bersalah walaupun sedikit kerana mereka beranggapan bahawa keAliran  Jabariyah
Kaum Jabariyah, kelompok   Jaham ibnu Shafwan menyatakan bahwa Allah sudah menetapkan perbuatan manusia itu di jaman azali yaitu jaman awal penciptaan makhluk, sehingga manusia itu tidak bebas berbuat apa-apa sama sekali dan Allah itu mutlak Maha Kuasa.
Kaum Jabariyah tersebut berpendapat bahwa manusia itu  sama sekali tidak mempunyai            daya kemampuan untuk berbuat.  Alur pikir seperti  ini menyamakan perbuatan manusia itu persis seperti  gerak reflek atau gerak otomatis  listrik.  Dapat juga kita bayangkan  menurut  kaum Jabariyah tadi manusia itu persis seperti wayang kulit  suatu cabang kesenian dan  budaya Jawa, maka yang namanya Gathutkoco itu dapat terbang di awang-awang saat dimainkan oleh dalang, jika tidak dimainkan olehnya maka Gathutkoco itu di dalam kotak tidak bisa bergerak sama sekali.
Doktrin predestinasi atau fatalisme di atas ini juga terdapat didalam pemikiran kaum agama Yahudi dan juga  Nasrani. Jonathan Edward (1758M) penganut faham Calvinisme menyatakan bahwa keselamatan seseorang tidak tergantung kepada amalnya, orang yang selamat  itu tergantung  sepenuhnya secara mutlak kepada Tuhan dalam segala-galanya. Fatalisme ialah kepercayaan bahwa semua kejadian di alam semesta ini  sudah ditetapkan Tuhan dan tidak dapat diubah oleh  manusia. Dan segala kejadian di alam maupun kehidupan manusia ini sudah ditetapkan Tuhan pada permulaan zaman (Titus-Rasyidi, 1984: 101).
ii. Aliran Ahlus Sunnah
Kaum Ahlus Sunnah atau Asy’ariyah, membagi perbuatan manusia itu ada dua macam, yaitu: 1) Perbuatan yang tmbul dengan sendirinya misalnya gerak reflek; 2) Perbuatan timbul karena ada kemauan. Dalam perbuatan yang timbul dari kemauan, maka manusia mempunyai perasaan sanggup mewujudkan perbuatan itu dan perasaan sanggup ini adalah daya kekuatan yang dimiliki manusia, sehingga merasa sanggup inilah yang disebut dengan Al-Kasbu. Allah menciptakan Al-Kasbu dan manusia mengembangkan Al-Kasbu yang dapat dispekulasikan sebagai alat untuk kemudian manusia dapat mewujudkan perbuatan itu  karena tergabungnya  alat  itu dengan  pertolongan Allah.
Kelompok Ahlus Sunnah berpendapat bahwa ilmu Allah itu Maha luas mencakup  segala sesuatu dan kehendak-Iradat Allah itu mencakup seluruh keadaan, demikian juga kekuasaan Allah itupun meliputi semua daya kekuatan termasuk daya manusia, yang baik ataupun yang buruk. Dengan demikian maka tidak ada  suatu perbuatan apapun juga yang ada di luar kekuasaan dan kehendak Allah, sekaligus tidak ada suatu  daya kemampuan yang menandingi kekuasaan dan kehendak Allah (Qudrat-Iradat Alah).
Aliran Asy’ariyah berpendapat bahwa Allah itu Maha Kuasa atas segala sesuatu, yang baik ataupun yang buruk, yang bagus maupun yang tercela. Adapun dalil yang  menjadi dasar pemikiran mereka  itu ialah:
(1) S.39 Az-Zumar 62 bahwa Allah itu adalah Pencipta segala sesuatu;
(2) S.13 Ar-Ra’du 16 bahwa orang musyrik menyembah selain Allah katanya dapat mencipta sesuatu seperti Allah, padahal yang menciptakan segala suatu itu hanyalah Allah sendiri. Jadi selain Allah itu tidak bisa membuat apa-apa.
(3) S.37 Ash-Shaffat  95-96 bahwa N.Ibrahim  bertanya kepada orang-orang musyrik: “Apakah kamu menyembah berhala yang kamu pahat sendiri dengan tanganmu itu? Padahal Allah adalah Dzat yang menciptakan kamu dan apa yang kamu buat itu” ;
(4) S.80 Al-Balad 24-27 bahwa yang menurunkan hujan, membuat gemburnya tanah, yang menumbuhkan tanaman, yang membuat tanaman berbuah semua itu yang membuat atau menciptakannya ialah Allah;
(5) S.6 Al-An’am 149 bahwa jika  seandainya Allah menghendaki dapat saja Allah memberi hidayah kepada semua makhluk;
(6) S3 Ali ‘Imran 123-126 bahwa hancurnya tentara  kafir dan kemenangan kaum muslimin dalam perang Badar memang dari Allah;
(7) S.6 Al-An’am 112  bahwa Allah itu yang membuat lawan atau musub kepada setiap nabi;
(8) S.6 Al-An’a, 123 bahwa Allah itu yang membuat aktif  pelaku dosa untuk membuat keresahan atau keonaran di  suatu daerah;
(9) S.14  Ibrahim 35 bahwa N.Ibrahim berdo’a mohon agar supaya diri dan anak-cucunya dijauhkan dari penyembahan kepada berhala;
(10)S.81 At-Takwir 29 dan S.76 Al-Insan 30,  bahwa apa yang dikehendaki manusia itu tidak akan terwujud, kecuali jika Allah menghendakinya.
اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ()لَهُ مَقَالِيدُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ (الزمر 62-63)
Artinya: “Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. Kepunyaan-Nyalah kunci-kunci (perbendaharaan) langit dan bumi”(s.39 Az-Zumar 62-63)
Secara umum ayat-ayat itu menunjukkan bahwa Allah itu Maha Kuasa menentukan seluruh perbuatan manusia, sedangkan manusia tidak dapat berbuat apa-apa diluar kekuasaan dan kehendak Allah.
Perlu direnungkan lebih jauh peristiwa yang terjadi  secara riil yang dicatat oleh ahli sejarah berikut:
Az-Zuhaili menulis dalam tafsirnya (1991-j.9\279) mencatat  beberapa  peristiwa besar yang menunjukkan bahwa perbuatan manusia telah menghasilkan suatu kejadian yang luar biasa, yang wajarnya  mereka tidak mempunyai kekuatan untuk menghasilkan apa yang terjadi  itu dan terkesan memang  Allah yang melakukan perbuatan itu jika pelaku perbuatan tersebut memenuhi kehendak Allah, berupa  iman, sabar dan keyakinan yang  maksimal,  sehingga Allah menolong sepenuhnya terwujudnya keberhasilan mereka, sebagaimana yang dijanjikan oleh Allah di dalam Al-Quran berikut:
وَإِنَّ جُنْدَنَا لَهُمُ الْغَالِبُونَ (الصافات (173)
Artinya”Dan sesungguhnya  tentara Kami itulah yang pasti menang”(S.37 Ash-Shaffat 173).
وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ (الماءدة 56)
Artinya: “Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang”(S.5 Al-Maidah 56).
اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَأَنْسَاهُمْ ذِكْرَ اللَّهِ أُولَئِكَ حِزْبُ الشَّيْطَانِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُونَ (المجادلة 19)
Artinya: “Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi”(s.58 Al-Mujadalah 119).
Contoh peristiwa-peristiwa besar itu :
a. Pada perang Muktah tentara Islam hanya 3000 personil dapat mengalahkan   200.000 orang gabungan tentara kafir Romawi dan Arab;
  1. b. Pada perang di Andalusia tahun 93 H, 1700 personil tentara  Islam dibawah pimpinan Thariq maula Musa ibnu Nashir dan mengalahkan 70.000 orang tentara Salib di bawah jendral Lotherik.
iii. Qadariyah
Qadariyah, kelompok Ma’bad al-Juhani percaya bahwa  manusia itu mempunyai   kebebasan berbuat menurut kemauannya, sedangkan Allah tidak menentukan perbuatan manusia dan perbuatan manusia ini tidak masuk ke dalam Qudrat-Iradat Allah, sehingga Allah tidak mengetahui apa-apa kecuali apa yang sudah terjadi.
Demikian juga kaum Mu’tazilah berpendapat bahwa Allah mengetahui segala sesuatu dan sudah mentakdirkannya di jaman azali. Allah juga telah menyerahkan kebebasan berbuat kepada manusia .Kaum Mu’tazilah berpendapat bahwa perbuatan manusia itu diciptakan oleh manusia sendiri. Dengan kata lain ialah bahwa manusia itu bebas berbuat atau tidak berbuat dan Allah tidak menciptakan perbuatan manusia bahkan Allah tidak mempunyai daya kekuatan untuk  menciptakan perbuatan manusia. Karena Allah sudah membatasi kekuasaannya.  Dasar pendapat itu ialah teori “Adil” yang menjadi sila pertama dari 5 sila kepercayaan aliran Mu’tazilah.
Kaum Mu’tazilah berpegang teguh  kepada 5 sila, yaitu:
(1) At-Tauhid, bahwa Allah itu Maha Esa mutlak; (2) Al-‘Ad-lu, bahwa Allah itu Maha Adil, maksudnya Allah itu tidak berbuat zalim sama sekali. Maka balasan Allah itu sesuai dengan amal perbuatan manusia. (3) Al-Wa’du wal Wa’id, bahwa dari sifat adil itu Allah berjanji akan  memberi balasan pelaku perbuatan yang baik mendapat pahala  dan memberi peringatan kepada yang berbuat jelek mendapat hukuman. (4)Al-Manzilah bainal manzilatain, bahwa di akhirat nanti yang tersedia hanya sorga dan neraka. Dan iman menurut Mu’tazilah itu kepercayaan di dalam hati dan amal perbuatan nyata. Oleh orang yang berbuat dosa besar itu tidak termasuk ke dalam golongan orang yang beriman tetapi juga tidak bisa dikelompokkan ke dalam golongan kafir, maka mereka mendapat tempat di antara dua tempat kedudukan sorga dengan neraka tersebut. (5)  Al-Amru bil ma’ruf wan-nahyu ‘anil munkar, bahwa orang Islam itu wajib mengajak orang lain untuk  berbuat baik  dan mencegah perbuatan yang tidak baik.
Orang  dapat digolongkan ke dalam kelompok Mu’tazilah jika dia berpegang teguh kepada Ushulul Khamsah atau 5 sila tersebut di atas selengkapnya, sehingga orang yang memegang sila itu tidak lengkap 5 sila, maka dia tidak dapat diterima sebagai kelompok  Mu’tazilah ini.
Khusus untuk prinsip yang ke-ii bahwa Allah itu Maha Adil, tidak mungkin Allah itu memberi balasan kecuali  kebajikan  yang  dikerjakan oleh manusia atau tidak memberi hukuman kecuali karena perbuatan jelek  yang  dia perbuat, sehingga  pahala dan hukuman itu tidak ada hubungannya  sama sekali dengan  qudrat-kekuasaan Allah, sebab  semua kebaikan dan kejelekan itu sepenuhnya berasal dari amal perbuatan  manusia, mereka  bebas  untuk  berbuat dan seluruhnya di bawah usaha manusia sendiri.
Alasan faham kaum  Mu’tazilah tersebut didasarkan atas pemahaman mereka terhadap ayat-ayat Al-Quran berkut:
1) S.6 Al-An’am 104 bahwa Allah sudah memberikan bukti dan kebenaran,  barang siapa yang mau memperhatikan kebenaran itu maka dia akan mendapat kebahagiaan, barang siapa yang tidak mau melihat kepadanya maka akibatnya akan ditanggungnya, jadi manusia itu bebas memilih perbuatannya sendiri.
2) S.66 At-Tahrim 8, bahwa Allah menyuruh manusia yang beriman supaya bertaubat kepada Allah dengan taubat Nashuha atau taubat yang setulus-tulusnya. Jika perbuatan manusia itu diciptakan oleh Allah maka perintah taubat ini sangat sulit difaham, sebaliknya perbuatan manusia itu diciptakan oleh manusia sendiri maka dia lalu memohon agar taubatnya diterima oleh Allah.
3) S.6 Al-An’am 148 bahwa orang-orang musyrik berkata jika  seandainya Qudrat dan Iradat Allah itu menciptakan perbuatan manusia maka mereka tidak mungkin menjadi musyrik menghalalkan segala cara. Difaham dari  Al-Quran maka sebenarnya manusia itu bebas menciptakan perbuatannya sendiri.
4) S.3 Ali ‘Imran 165  menurut Ar-Rumani tokoh Mu’tazilah bahwa pukulan pasukan kafir yang dapat memporak porandakan  pasukan  Islam tersebut disebabkan karena kesalahan pasukan Islam sendiri dengan kata lain bahwa manusia sendirilah yang menciptakan perbuatannya.
5) S.3 Ali ‘Imran 108 bahwa Allah tidak ingin berbuat zalim kepada makhluk di alam ini.  Al-Jubba`i salah seorang tokoh Mu’tazilah berkata bahwa Allah itu tidak menghendaki keburukan sama sekali.
6) S.4 An-Nisa` 60, S.7 Al-A’raf 27, S.28 Al-Qashash 15 dan S.14 Ibrahim 22,  bahwa yang membuat dan menggoda manusia menjadi  sesat itu ialah syaitan, bukan Allah dan hal itu tidak  terwujud melalui kehendak-iradat Allah;            (Lih.Yusuf Musa, Al-Quran wal falsafah 1966,h.98-120).
7) S.18 Al-Kahfi 29 bahwa manusia memiliki kebebasan berbuat, terserah dia mau beriman atau kafir kepada   Allah itu dia bebas memilih perbuatannya mau beriman silahkan, ingin kafir terserah:
وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ (الكهف 29)
Artinya: “Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”(s.118 Al-Kahfi 29).
8)  Lihat juga S.13 Ar-Ra’du 11; S.4 An-Nisa` 110; S.76 Al-Insan 3.
2.Perkembangan  masing-masing aliran
Pada dasarnya masing-masing aliran berusaha keras untuk menjunjung tinggi sifat mutlak Allah sampai semaksimal mungkin melalui pemahaman atas dalil yang dipegang masing-masing kelompok.
Aliran-aliran pemikiran tersebut dapat dikategorikan kepada dua alur pemikiran faham. Jika seandainya  digambarkan  umpamanya masing-masing aliran memegang tali kepercayaannya, yang satu memegang ujung kanan yang satunya lagi  memegang  ujung kiri, maka tercatat sebagai berikut:
a) Ujung  paling kanan misalnya aliran Jabariyah atau fatalisme berpendapat  bahwa manusia itu sama sekali tidak mempunyai kebebasan  berbuat,  persis  seperti mesin otomatis elektronis.
b) Ekstremitas faham aliran pertama ini makin berkurang makin lemah mengarah   memegang tali kepercayaan  merambat ke sebelah tengah  makin kekiri  sampai ke ujung  yang  sebelah kiri.
c) Ujung paling kiri maka aliran Qadariyah berpendapat bahwa manusia itu memiliki kebebasan   untuk berbuat bahkan menurut kelompok ini Allah itu tidak mempunyai kekuasaan untuk  menentukan perbuatan manusia.
Jika kita perhatikan lebih kritis lagi, maka  dispekulasikan dari  faham-faham yang sangat ekstrem di atas akan timbul hal-hal  sebagai berikut:
@ Kelompok Jabariyah: Jika manusia tidak bebas berbuat sama sekali, maka timbul  kesulitan memahami sifat-sifat Tuhan yang lain terutama sifat “adil” Tuhan, yaitu bahwa Allah akan memberi balasan kepada hamba, kepada pelaku perbuatan yang baik akan diberi pahala dan kepada pelaku perbuatan yang tidak baik akan diberi hukuman.  Jika manusia tidak bebas berbuat, berarti sebagian manusia akan menjadi penderita ketidak-adilan, karena orang yang tidak bebas berbuat atau berbuat dalam keadaan terpaksa  lalu dihukum masuk ke neraka. Sebaliknya ada  sebagian orang  yang diberi pahala sorga dari perbuatan yang bukan perbuatan dia. Ini namanya tidak adil sama dengan zalim dan  dari faham Jabariyah ini maka akal pikiran akan beku tidak berkembang.
@ Kelompok  Qadariyah:
Jika manusia itu bebas berbuat, maka terkesan bahwa Allah itu bersifat  tidak sempurna atau tidak bersifat Maha. Suatu substnasi yang tidak sempurna tidak mungkin disebut Tuhan.. Lebih jauh lagi kaum Mu’tazilah berpendapat bahwa sifat Maha Sempurna Allah itu sangat maksimal,  An-Nazhzham (231H=845M) salah seorang tokoh Mu’tazilah menyatakan bahwa tidak mungkin sifat Allah  Qadiran, Muridan mau menciptakan kejelekan, keburukan dan dosa, sebab Allah itu mempunyai sifat yang serba Maha, Maha Sempurna, yang hanya menghendaki  yang baik dan tidak menghendaki sesuatu yang jelek, prinsip ini dinamakan Ash-shalah wal ashlah,.
Lebih jauh lagi maka jika ada ayat atau hadis yang berlawanan dengan fahamnya maka dalil ini lalu direkayasa dengan beberapa teori   supaya tidak berlawanan dengan faham mereka.
Kemudian jika ikhtiar dan kebebasan berbuat itu bukan hasil ciptaan manusia maka seluruh larangan, perintah, pujian, celaan, pahala, hukuman batal semua dan berbalik menjadi sifat zalim dan tidak mungkin  Allah  itu  berbuat zalim.
Tinjauan Qurani
Para  ulama sepakat bahwa Al-Quran itu mengandung nash yang bersifat Muhkam danMutasyabih. Nash yang Muhkam ialah nash  yang pokok tempat berlindung  segala masalah, sedangkan   nash  yang   Mutasyabih, maka pemecahan masalah dan kesulitan memahami maknanya harus merujuk dan berlindung di bawah nash yangMuhkam. Oleh karena itulah segala kemusykilan dalam memahami nash-nash yang ada di dalam Al-Quran wajib dikembalikan atau berlindung di bawah nash yangMuhkam itu, di dalam Ilmu Ushulul Fiqh istilah Muhkam disebut Qath’i sedangkanMutasyabih disebut dengan Zhanni.  Hanya saja para ulama berbeda pendirian secara rinci mendetail mengenai  nash-nash yang mana yang bersifat Muhkam dan nash yang mana bersifat Mutasyabih..
3. Beberapa teori dan analisa
Menghadapi perbedaaan pendapat masalah perbuatan Tuhan dan perbuatan manusia  di atas maka  Muhammad ‘Abduh  memberikan  pemecahan atas  kemusykilan tersebut menyatakan bahwa Allah sudah membuat aturan yang sudah tetap abadi selama-lamanya yang dinamakan dengan Sunnatullah, yang  di dalamnya tercakup Hukum Kausalitas atau Hukum Sebab Akibat. Jika seandainya ada seorang hamba memperoleh suatu keberuntungan atau suatu derita, prosesnya ialah Allah memberikan “sebab” kepada siapa yang dikehendaki  itu sehingga dari “sebab” tersebut orang itu memperoleh “akibat”, apakah akibat yang baik atau akibat yang buruk(Nasution 1987,h.77).
Dalam filsafat Barat (Nasrani) kita kenal teori Self determinism yaitu jalan tengah antara faham determinisme dengan kebebasan  (antara Jabariyah dengan Qaraiyah) bahwa manusia itu tidak hanya terikat oleh lingkungan saja tetapi manusia juga menciptakan perubahan lingkungannya, sebab manusia bisa menjadi pelakupenyebab dalam teori Hukum Kausalitas dan manusia mempunyai kebebasan untuk memilih perbuatannya. Menurut  aliran ini  Tuhan yang benar ialah Tuhan yang tekun  dan jeli dalam mengatur alam.
Yusuf Musa dalam kitabnya Al-Quran wal falsafah (1966:133) menulis bahwa sebenarnya Tuhan itu sudah menetapkan suatu hukum kebijaksanaan sejak jaman azali untuk  mengatur seluruh jagad raya ini termasuk perbuatan  manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan dengan hukum yang abadi dan  universal, sehingga perbuatan manusia itu dibatasi oleh hukum, yaitu Hukum Alam atau Sunnatullah. Dan Tuhan yang hakiki ialah Tuhan yang membatasi kudrat-iradat-Nya  oleh Tuhan sendiri sesuai dengan sifat bijaksana Tuhan dan Ilmu Tuhan untuk  memberi  hidayah atau dhalalahkepada manusia sesuai dengan situasi dan kondisi mereka. Sehingga dengan demikian tidak ada unsur luar yang membatasi  sifat  kudrat, iradat,  adilnya Tuhan.
Ar-Razi seorang tokoh Ahlus Sunnah menyatakan bahwa perbuatan manusia itu terwujud melalui  pertolongan Allah. Dan manusia merasa bahwa terwujudnya sesuatu itu hasil dari  perbuatannya, akan tetapi yang menciptakan kemampuan  dalam diri manusia itu adalah Allah.
Ibnu Rusyd menyatakan bahwa kebebasan mutlak dan paksaan terhadap manusia  seperti yang dianut oleh kaum Mu’tazilah dan Jabariyah  itu sebenarnya tidak muungkin, karena di samping ada perbuatan reflek dalam diri manusia masih ada sebab-sebab yang ada di luar dirinya. Hanya karena  adanya daya untuk  memilih  itulah  maka Allah menyediakan pahala  dan siksa.
Kelompok Maturidi berpendapat bahwa  manusia itu  mempunyai daya kekuatan untuk  berbuat, namun berhasilnya perbuatan itu dapat dilakukan sangat tergantung kepada adanya kemauan. Sehingga  pertanggung jawaban manusia  itu terletak padakemauan untuk memilih perbuatan.      Walaupun begitu  kemauan manusia itu  sangat tergantung lagi  kepada Iradat Allah. Disisi lain perbuatan yang dipilih oleh manusia ini ada  dua kemungkinan, yaitu  ada perbuatan yang diridhoi Allah dan  ada perbuatan yang tidak diridhoi-Nya, yang baik dirdhoi Allah dan yang jelek tidak diridhoi-Nya(Nasution 1986,h.113).
@Analisa akhir
Dispekulasikan disini bahwa   menurut penulis,  teori KEMAUAN  antara Iradat Allah dan kemauan manusia dapat diibaratkan persis seperti permainan “Perlombaan Tarik Tambang” pada peringatan Hari Besar Nasional. Keinginan atau kemauan manusia dapat dikiaskan seperti  seorang peminta-peminta yang merengek-rengek memohon belas kasih sang tuan. Kemauan Tuhan atau belas kasih Allah itu dapat diumpamakan seperti sang tuan. Maka terjadilah adu kekuatan tarik menarik antara do’a permohonan hamba dengan belas kasih Tuhan. Jika permohonan si hamba itu kuat maka belas kasih Tuhan akan tertarik  kepada  keinginan hamba. Sebaliknya jika do’a permohonan hamba kurang kuat maka belas kasih Tuhan itu tidak dapat ditarik oleh kemauan hamba, sehingga yang terwujud dan yang terlaksana ialah iradat Allah. Akan tetapi do’a permohonan hamba yang dapat meneteskan belas kasih Allah  tersebut  sama sekali tidak mengurangi Qudrat-Iradat Allah, sebab terwujudnya perbuatan manusia ini berhasil disebabkan karena belas kasih Allah. Adu kekuatan  tarik menarik antara Qudrat-Iradat Allah  dengan kekuatan do’a-taqarrub hamba kepada Allah, sehingga hamba sangat dimanjakan oleh Allah, jelas sekali tergambar di dalam hadis Bukhari berikut:
6021  عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ (رواه البخاري)*
Artinya: “Dari Abu Hurairah dia berkata: “Rasulullah  bersabda: “Sungguh  Allah berfirman: “Ada hamba-Ku yang tidak henti-hentinya taqarrub-mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunat, sehingga Aku mencintai dia, jika Aku sudah mencintai dia, maka Aku menjadi pendengarannya dia mendengar dengan pendengaran itu, Aku menjadi pengelihatannya dia melihat dengan pengelihatan itu, aku menjadi tangannya dia berbuat dengan tangan itu, Aku menjadi kakinya, dia berjalan dengan kaki itu. Sungguh jika dia memohon kepada-Ku pasti Aku kabulkan, jika dia memohonan perlindungan-Ku maka dia pasti Aku lindungi”(HR Bukhari CD Hadis Kutubuit –Tis’ah no.6021).
Barangkali inilah yang terjadi pada beberapa peristiwa kemenangan pasukan Islam melawan tentara kafir dalam Perang Badar, Uhud, Hunain dan beberapa Perang-Sabil dalam sejarah Islam itu. Secara indrawi yang tampak ialah PERBUATAN MANUSIA  padahal hakikatnya adalah PERBUATAN ALLAH.
131 عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ (رواه مسلم)*
Artinya: “Dari Abdullah ibnu Mas’ud dari Nabi Saw. beliau bersabda: “Tidak masuk sorga siapa yang di dalamnya  hatinya terdapat  rasa sombong walaupun hanya sebesar biji sawi”(HR Muslim  no. 131).ma’siatan yang mereka lakukan adalah hal yang menyeronokkan dan malah mendatangkan manfaat didalam kehidupan mereka. Maka terjadilah gejala pergaulan bebas ‘couple’ di kalangan pelajar-pelajar Islam, merempit, menonton video lucah, berjudi, minum arak, berzina dan banyak lagi kema’siatan yang lain.
Persoalannya, mengapakah mereka melakukan kema’siatan-kema’siatan tersebut, sedangkan mereka sendiri mempunyai pemahaman yang sangat jelas mengenai hukum menonton lucah itu haram, arak itu haram, dan judi itu haram? Ini kerana umat Islam pada hari ini menentukan tolok ukur perbuatan mereka itu menurut apa yang mereka suka, menyeronokkan, benci, menyenangkan mengikut hawa nafsu semata-mata. Sedangkan siapakah kita sebagai makhluk yang sangat lemah dan terbatas ini untuk sesuatu itu boleh dilakukan dan sesuatu itu haram untuk dilakukan? Bukankah kita merupakan makhluk Allah yang dengan hanya menggunakan aqal, pastinya tidak akan dapat menentukan dengan tepat mengenai apakah yang boleh atau tidak dilakukan. Sebagai contoh, ramai diantara umat Islam yang telah melakukan keharaman homoseksual dan lesbian dan mengatakan bahawa tiada salahnya menjadi gay atau berkahwin sesama sejenis, kerana mereka berhujah dengan menyatakan, “kamu boleh lakukan apa sahaja selagi tidak mengganggu orang lain”. Diatas dasar ini, mereka menghalalkan gay, murtad, gugurkan janin, dan banyak lagi keharaman yang lain. Siapakah mereka ini disisi Allah untuk menolak hukum Allah yang Maha Berkuasa?
Sesungguhnya Islam menegaskan bahawa hanya Pencipta kepada makhluk itulah yang layak menentukan tolok ukur setiap perbuatan. Didalam menentukan samada sesuatu perbuatan itu boleh dilakukan atau tidak, seseorang yang beriman akan merujuk kepada apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, apakah perbuatan yang mereka hendak lakukan itu merupakan suatu yang halal ataupun haram. Inilah yang membezakan seorang muslim dengan seorang yang tidak beriman. Seseorang yang tidak mempunyai iman akan melakukan apa jua perkara tanpa mempunyai batasan, dia hanya melihat adakah hal itu membawa manfaat atau tidak kepada dirinya. Sekiranya hal itu memberikan faedah duit seperti mencuri, dia akan sanggup melakukannya tanpa mengendahkan halal dan haram kerana apa yang dijadikannya sebagai tolok ukur hanyalah manfaat.
Maka selayaknya bagi mereka yang beriman untuk tunduk dan patuh kepada perintah-Nya dan menjadikan halal dan haram sebagai panduan didalam hidupnya. Sekiranya perbuatan merupakan suatu yang halal, maka dia akan berlumba-lumba untuk melakukannya. Namun, sekiranya perkara tersebut merupakan suatu yang haram maka dia akan berusaha untuk meninggalkannya, malah menegah orang-orang lain daripada mendekati keharaman tersebut.

No comments:

Post a Comment